TOUR n TREKKING IN PANGANDARAN part-1
IRPS BANDUNG GO
TOUR N TREKKNING IN PANGANDARAN
Setelah rencana touring dan trekking ke jalur mati Banjar-Pangandaran- Cijulang mengalami beberapa perubahan jadwal, maka pada tanggal 29 Desember 2007 rencana touring dan trekking ke Pangandaran tersebut akhirnya terlaksana juga. Karena sebagian anggota IRPS BD masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda, maka pemberangkatan touring and trekking ini di bagi dalam 4 gelombang. Gelombang pertama (yang terbesar) berangkat pukul 10.00 WIB dari kediamannya Mas Pura. gelombang pertama ini terdiri dari saya, Pura, Hendra, Rizky dan Krisnaharel beserta istrinya. Gelombang kedua hanya Mas Nurcahyo berangkat pukul 11.00 WIB. Gelombang ketiga hanya Aryo berangkat pukul 15.30 WIB dan gelombang keempat hanya Mas Intrias yang berangkat pukul 01.00 WIB (dinihari tgl 30 Desember 2007). Sebelum berangkat kami berdoa terlebih dahulu memohon perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan YME. Sekitar pukul 12an kami berhenti dulu disebuah masjid di daerah Nagrek untuk melaksanakan Sholat Dzuhur. Setelah sholat kami kirim sms ke Mas Nurcahyo, Aryo dan Mas Intrias menginformasikan posisi kami saat itu. Ternyata Mas Nurcahyo sudah berangkat dan baru sampai Cibiru, tetapi beliau bilang tak usah di tunggu. Maka kami melanjutkan perjalanan.
Pukul 13.10 WIB kami beristirahat di Stasiun Cipeundeuy. Mas Nurcahyo baru nyampe Nagrek, Aryo masih sibuk di bengkel dan motornya ada sedikit trouble sedangkan Mas Intrias masih dibengkel juga betulin mobilnya. Di Stasiun Cipeundeuy kami sempat hunting dan cuma dapet KA Kutojaya Selatan yang datang pukul 13.54 WIB dari Kutoarjo yang di tarik lok CC20305. Pukul 14.11 WIB kami meneruskan perjalanan. Kami tidak melewati Kota Tasikmalaya tetapi kami lewat jalan Bypass. Pukul 15.15 WIB tiba di Kota Ciamis, kami berhenti di masjid Agung Ciamis untuk melaksanakan Sholat Ashar dan juga untuk beristirahat. Setelah selesai menunaikan Sholat Ashar, kami kirim sms kepada Mas Nurcahyo. ternyata beliau sudah sampai Banjar (mungkin ketika kami istirahat di masjid Agung Ciamis, beliau langsung bablas) akhirnya kami sefakat ketemuan di Stasiun Banjar, sedangkan Aryo baru berangkat dari Bandung.
Karena jarak Ciamis-Banjar relatif dekat maka pukul 16.15 WIB kami tiba di Stasiun Banjar. Setelah istirahat sebentar, berbarengan dengan berangkatnya KA Serayu tujuan Kroya maka kami juga berangkat meneruskan perjalanan menuju Pangandaran. Pukul 18.45 WIB kami tiba di masjid Pangandaran untuk beristirahat dan melaksanakan Sholat Magrib serta Sholat Isya. Setelah selesai sholat kami kirim lagi sms ke Aryo dan Mas Intrias. Ternyata Aryo baru tiba di Cikoneng (Masjid Itje) motornya mengalami trouble yang cukup parah. Block mesinnya ada yang bocor sehingga oli mesin keluar, tapi dia akan usahakan untuk memperbaikinya. Kami cukup lama di masjid Pangandaran guna mengetahui kabar selanjutnya dari Aryo, tak lupa juga kami sms mas Intrias untuk meminta bisa ndak beliau berangkat lebih awal supaya kalau saja motor Aryo tidak bisa diperbaiki, Aryo bisa ikut motornya Mas Intrias sedangkan motornya Aryo di tinggal. Ternyata Mas Intrias tidak bisa karena mau istirahat dulu setelah seharian betulin mobilnya. Akhirnya motor Aryo benar-benar tidak bisa diperbaiki. Dia cuma mohon maaf tidak bisa melanjutkan perjalanan dan mendoakan supaya acara kami berjalan dengan lancar. Dia mau balik lagi ke Bandung bagaimanapun caranya. Akhirnya kami masuk ke Obyek wisata Pangandaran dan tidak jadi menginap di Batu Karas, tetapi menginap di Pangandaran.
Pukul 05.00 WIB Mas Intrias telpon bahwa beliau sudah tiba di Pangandaran, posisi beliau saat itu di Masjid Pangandaran untuk Sholat Subuh sekalian istirahat. Maka saya dan Mas Pura datang ke masjid tersebut. Menurut Mas Intrias, pukul 02.00 WIB sempat mampir dulu ke Masjid Itje untuk mencari Aryo. Ternyata kata tukang ojek yang kebetulan waktu itu membantu Aryo, dia sudah pulang ke Bandung memaksakan motornya (saya dapat kabar dari Aryo, dia habis 2 botol Oli untuk sampai ke Bandung, habis isi lagi……habis isi lagi…..). Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Mas Intrias di masjid tersebut, maka kami mengajak Mas Intrias untuk beristirahat bersama-sama sebentar di hotel tempat kami menginap. Pukul 06.45 WIB kami sarapan bubur dulu dipinggir pantai (mas Nur entah kemana). Akhirnya pukul 07.05 WIB kami menuju Cijulang untuk memulai acara trekking, tetapi tas kami ditinggal di hotel karena cek-out kami hingga tengah hari nanti.
Pukul 07.58 WIB kami tiba di bekas Stasiun Cijulang. Di dalam Stasiun Cijulang kami menemukan beberapa perabotan yang masih untuh dan yang sempat digunakan pada waktu itu, perabotan yang masih utuh ialah meja loket, brangkas yang terbuat dari besi untuk menimpan uang atau surat berharga, jendela beserta loketnya, dan pintu-pintu yang masih ada. Di bagian luar Stasiun Cijulang terdapat sebuah emplasemen yang kini menjadi sebuah lapangan voli, rel-rel dan bantalan sebagian masih ada, ada juga bekas dipo lok. Kini bekas Stasiun Cijulang di pakai oleh warga sekitar buat simpan kayu-kayu material. Keadaan bangunan ini sudah tidak terawat baik luar maupun dalamnya.
Kami mencoba untuk menyusuri ujung rel KA ini. Ketika kami lagi menyusuri ujung rel, kami sempat mengobrol dengan seorang ibu. beliau bilang rel dan bantalan di sini relatif utuh karena setiap ada orang yang mau ambil rel dan bantalan suka di tegur sama warga sekitar. Alasan ibu tadi adalah jika aset-aset KA yang berada di bekas Stasiun Cijulang ini hilang, pasti yang terkena getahnya adalah warga sekitar. Setelah mengobrol dengan si ibu tadi, kami melanjutkan penelusuran ke ujung rel tersebut. Ternyata ke tiga jalur yang berada di emplasemen tersebut mengarah ke sebuah bangunan yang cukup besar dekat lapangan sepakbola yang diseberangnya terdapat sebuah bangunan sekolah dasar. Kami menyimpulkan bahwa dulunya wesel-wesel berada di tengah-tengah bangunan tersebut.
Hampir 1 jam kami berada di bekas Stasiun Cijulang, akhirnya pukul 08.44 WIB, kami balik lagi ke arah Pangandaran sambil menyusuri rel. Di daerah Desa Kondang Jajar, kami berhenti dulu untuk hunting di rel mati. Sepanjang jalan antara Cijulang-Kondang Jajar memang jalan raya sama jalur KA selalu berdampingan. Di sebuah ceruk kami menemukan rel bekas dipotong sama orang yang tidak bertanggungjawab.
Pukul 08.54 WIB, kami sampai di bekas jembatan KA Cijaluhilir. Rel dan bantalan masih ada, cuma paku-paku penambat sudah raib semua. Setelah hunting di jembatan ini, kami melanjutkan trekking ke bekas Stasiun Parigi. Pukul 09.06 WIB kami tiba di bekas Stasiun Parigi. Keadaan bekas stasiun hanya menyisakan dinding dan pintu saja. Tetapi sebagian rel, bantalan dari besi dan satu buah wesel masih ada. Saya lihat di bantalan tertera tahun 1930.
Pukul 09.32 WIB kami tiba di bekas Stasiun Cibenda. Bekas stasiun ini hanya menyisakan sebuah gundukan tanah dan satu buah jalur KA yang diatasnya terdapat kandang kambing. Saya sempat memfoto tahun yang tertera di rel yakni buatan Krupp 1887. Pukul 09.56 WIB kami tiba di bekas jembatan Cikembulan. Keadaan bekas jembatan ini hampir sama dengan keadaan bekas jembatan Cijaluhilir yakni rel dan bantalan masih ada, paku-paku penambat sudah raib semua.
Pukul 10.08 WIB, akhirnya kami tiba di bekas Stasiun Pangandaran. Keadaan bekas stasiun inisebagian dinding retak-retak (mungkin bekas kena gempa dulu), emplasemen dan bekas jalur-jalur rel kini menjadi sebuah kebun singkong dan pisang dan bangunan stasiun sendiri dijadikan tempat untuk menaruh papan material. Papan petunjuk ruangan PPKA dan Kepala Stasiun masih ada, hanya saja menggunakan ejaan yang sekarang. Dahulu terdapat mantan penjaga stasiun dan terdapat pintu dan tembok, hanya saja keduanya sekarang sudah tidak ada. Puas hunting di bekas Stasiun Pangandaran, kami kembali dulu ke hotel untuk beristirahat dan makan siang.
bersambung ke TOUR n TREKKING IN PANGANDARAN part-2



