TOUR n TREKKING IN PANGANDARAN part-1

IRPS BANDUNG GO

TOUR N TREKKNING IN PANGANDARAN

Setelah rencana touring dan trekking ke jalur mati Banjar-Pangandaran- Cijulang mengalami beberapa perubahan jadwal, maka pada tanggal 29 Desember 2007 rencana touring dan trekking ke Pangandaran tersebut akhirnya terlaksana juga. Karena sebagian anggota IRPS BD masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda, maka pemberangkatan touring and trekking ini di bagi dalam 4 gelombang. Gelombang pertama (yang terbesar) berangkat pukul 10.00 WIB dari kediamannya Mas Pura. gelombang pertama ini terdiri dari saya, Pura, Hendra, Rizky dan Krisnaharel beserta istrinya. Gelombang kedua hanya Mas Nurcahyo berangkat pukul 11.00 WIB. Gelombang ketiga hanya Aryo berangkat pukul 15.30 WIB dan gelombang keempat hanya Mas Intrias yang berangkat pukul 01.00 WIB (dinihari tgl 30 Desember 2007). Sebelum berangkat kami berdoa terlebih dahulu memohon perlindungan dan keselamatan kepada Tuhan YME. Sekitar pukul 12an kami berhenti dulu disebuah masjid di daerah Nagrek untuk melaksanakan Sholat Dzuhur. Setelah sholat kami kirim sms ke Mas Nurcahyo, Aryo dan Mas Intrias menginformasikan posisi kami saat itu. Ternyata Mas Nurcahyo sudah berangkat dan baru sampai Cibiru, tetapi beliau bilang tak usah di tunggu. Maka kami melanjutkan perjalanan.

Pukul 13.10 WIB kami beristirahat di Stasiun Cipeundeuy. Mas Nurcahyo baru nyampe Nagrek, Aryo masih sibuk di bengkel dan motornya ada sedikit trouble sedangkan Mas Intrias masih dibengkel juga betulin mobilnya. Di Stasiun Cipeundeuy kami sempat hunting dan cuma dapet KA Kutojaya Selatan yang datang pukul 13.54 WIB dari Kutoarjo yang di tarik lok CC20305. Pukul 14.11 WIB kami meneruskan perjalanan. Kami tidak melewati Kota Tasikmalaya tetapi kami lewat jalan Bypass. Pukul 15.15 WIB tiba di Kota Ciamis, kami berhenti di masjid Agung Ciamis untuk melaksanakan Sholat Ashar dan juga untuk beristirahat. Setelah selesai menunaikan Sholat Ashar, kami kirim sms kepada Mas Nurcahyo. ternyata beliau sudah sampai Banjar (mungkin ketika kami istirahat di masjid Agung Ciamis, beliau langsung bablas) akhirnya kami sefakat ketemuan di Stasiun Banjar, sedangkan Aryo baru berangkat dari Bandung.

Karena jarak Ciamis-Banjar relatif dekat maka pukul 16.15 WIB kami tiba di Stasiun Banjar. Setelah istirahat sebentar, berbarengan dengan berangkatnya KA Serayu tujuan Kroya maka kami juga berangkat meneruskan perjalanan menuju Pangandaran. Pukul 18.45 WIB kami tiba di masjid Pangandaran untuk beristirahat dan melaksanakan Sholat Magrib serta Sholat Isya. Setelah selesai sholat kami kirim lagi sms ke Aryo dan Mas Intrias. Ternyata Aryo baru tiba di Cikoneng (Masjid Itje) motornya mengalami trouble yang cukup parah. Block mesinnya ada yang bocor sehingga oli mesin keluar, tapi dia akan usahakan untuk memperbaikinya. Kami cukup lama di masjid Pangandaran guna mengetahui kabar selanjutnya dari Aryo, tak lupa juga kami sms mas Intrias untuk meminta bisa ndak beliau berangkat lebih awal supaya kalau saja motor Aryo tidak bisa diperbaiki, Aryo bisa ikut motornya Mas Intrias sedangkan motornya Aryo di tinggal. Ternyata Mas Intrias tidak bisa karena mau istirahat dulu setelah seharian betulin mobilnya. Akhirnya motor Aryo benar-benar tidak bisa diperbaiki. Dia cuma mohon maaf tidak bisa melanjutkan perjalanan dan mendoakan supaya acara kami berjalan dengan lancar. Dia mau balik lagi ke Bandung bagaimanapun caranya. Akhirnya kami masuk ke Obyek wisata Pangandaran dan tidak jadi menginap di Batu Karas, tetapi menginap di Pangandaran.

Pukul 05.00 WIB Mas Intrias telpon bahwa beliau sudah tiba di Pangandaran, posisi beliau saat itu di Masjid Pangandaran untuk Sholat Subuh sekalian istirahat. Maka saya dan Mas Pura datang ke masjid tersebut. Menurut Mas Intrias, pukul 02.00 WIB sempat mampir dulu ke Masjid Itje untuk mencari Aryo. Ternyata kata tukang ojek yang kebetulan waktu itu membantu Aryo, dia sudah pulang ke Bandung memaksakan motornya (saya dapat kabar dari Aryo, dia habis 2 botol Oli untuk sampai ke Bandung, habis isi lagi……habis isi lagi…..). Setelah bercakap-cakap sebentar dengan Mas Intrias di masjid tersebut, maka kami mengajak Mas Intrias untuk beristirahat bersama-sama sebentar di hotel tempat kami menginap. Pukul 06.45 WIB kami sarapan bubur dulu dipinggir pantai (mas Nur entah kemana). Akhirnya pukul 07.05 WIB kami menuju Cijulang untuk memulai acara trekking, tetapi tas kami ditinggal di hotel karena cek-out kami hingga tengah hari nanti.

Pukul 07.58 WIB kami tiba di bekas Stasiun Cijulang. Di dalam Stasiun Cijulang kami menemukan beberapa  perabotan yang masih untuh dan yang sempat digunakan pada waktu itu, perabotan yang masih utuh ialah meja loket, brangkas yang terbuat dari besi untuk menimpan uang atau surat berharga, jendela beserta loketnya, dan pintu-pintu yang masih ada. Di bagian luar Stasiun Cijulang terdapat sebuah emplasemen yang kini menjadi sebuah lapangan voli, rel-rel dan bantalan sebagian masih ada, ada juga bekas dipo lok. Kini bekas Stasiun Cijulang di pakai oleh warga sekitar buat simpan kayu-kayu material. Keadaan bangunan ini sudah tidak terawat baik luar maupun dalamnya.

 

 

Kami mencoba untuk menyusuri ujung rel KA ini. Ketika kami lagi menyusuri ujung rel, kami sempat mengobrol dengan seorang ibu. beliau bilang rel dan bantalan di sini relatif utuh karena setiap ada orang yang mau ambil rel dan bantalan suka di tegur sama warga sekitar. Alasan ibu tadi adalah jika aset-aset KA yang berada di bekas Stasiun Cijulang ini hilang, pasti yang terkena getahnya adalah warga sekitar. Setelah mengobrol dengan si ibu tadi, kami melanjutkan penelusuran ke ujung rel tersebut. Ternyata ke tiga jalur yang berada di emplasemen tersebut mengarah ke sebuah bangunan yang cukup besar dekat lapangan sepakbola yang diseberangnya terdapat sebuah bangunan sekolah dasar. Kami menyimpulkan bahwa dulunya wesel-wesel berada di tengah-tengah bangunan tersebut.

Hampir 1 jam kami berada di bekas Stasiun Cijulang, akhirnya pukul 08.44 WIB, kami balik lagi ke arah Pangandaran sambil menyusuri rel. Di daerah Desa Kondang Jajar, kami berhenti dulu untuk hunting di rel mati. Sepanjang jalan antara Cijulang-Kondang Jajar memang jalan raya sama jalur KA selalu berdampingan. Di sebuah ceruk kami menemukan rel bekas dipotong sama orang yang tidak bertanggungjawab.

 

Pukul 08.54 WIB, kami sampai di bekas jembatan KA Cijaluhilir. Rel dan bantalan masih ada, cuma paku-paku penambat sudah raib semua. Setelah hunting di jembatan ini, kami melanjutkan trekking ke bekas Stasiun Parigi. Pukul 09.06 WIB kami tiba di bekas Stasiun Parigi. Keadaan bekas stasiun hanya menyisakan dinding dan pintu saja. Tetapi sebagian rel, bantalan dari besi dan satu buah wesel masih ada. Saya lihat di bantalan tertera tahun 1930.

 

Pukul 09.32 WIB kami tiba di bekas Stasiun Cibenda. Bekas stasiun ini hanya menyisakan sebuah gundukan tanah dan satu buah jalur KA yang diatasnya terdapat kandang kambing. Saya sempat memfoto tahun yang tertera di rel yakni buatan Krupp 1887. Pukul 09.56 WIB kami tiba di bekas jembatan Cikembulan. Keadaan bekas jembatan ini hampir sama dengan keadaan bekas jembatan Cijaluhilir yakni rel dan bantalan masih ada, paku-paku penambat sudah raib semua.

 

Pukul 10.08 WIB, akhirnya kami tiba di bekas Stasiun Pangandaran. Keadaan bekas stasiun inisebagian dinding retak-retak (mungkin bekas kena gempa dulu), emplasemen dan bekas jalur-jalur rel kini menjadi sebuah kebun singkong dan pisang dan bangunan stasiun sendiri dijadikan tempat untuk menaruh papan material. Papan petunjuk ruangan PPKA dan Kepala Stasiun masih ada, hanya saja menggunakan ejaan yang sekarang. Dahulu terdapat mantan penjaga stasiun dan terdapat pintu dan tembok, hanya saja keduanya sekarang sudah tidak ada. Puas hunting di bekas Stasiun Pangandaran, kami kembali dulu ke hotel untuk beristirahat dan makan siang.

 

bersambung ke TOUR n TREKKING IN PANGANDARAN part-2

TOUR n TREKKING IN PANGANDARAN part-2

Pukul 11.45 WIB kami akhirnya cek-out dan melanjutkan trekking ke arah Banjar. Pukul 12.22 WIB, kami tiba di bekas jembatan Ciputrapinggan kecil yang melintasi sebuah sungai. Bekas jembatan ini hanya menyisakan kerangkanya saja, baik bantalan dan rel raib entah kemana. 15 menit kemudian kami tiba di dekat jembatan Ciputrapinggan besar (dekat bibir pantai). Dengan menaiki sebuah bukit, akhirnya kami bisa melihat keadaan bekas jembatan Ciputrapinggan ini. Kami tidak bisa mengikuti bekas jalur KA yang menuju jembatan ini karena sekarang sudah menjadi sebuah sungai kecil dan juga kolam-kolam ikan penduduk sekitar.


 

Pukul 13.00 WIB kami tiba disebuah warung di dekat bekas terowongan terpanjang di Indonesia (1.216 m). Warga sekitar menyebutnya Terowongan Sumber, kalau Belanda kasih nama terowongan ini ialah terowongan Ratu Wilhelmina. Setelah menitipkan motor ke ibu pemilik warung, kami mulai menuruni bukit menuju ke bekas terowongan Sumber minus istri Mas Krisnaharel. Butuh 30 menit untuk sampai ke mulut terowongan ini, karena medan yang harus di tempuh relatif extreme. Kami harus menurunin bukit yang berkelok-kelok dengan kemiringan ± 30°. Ketika kami menurunin bukit, kami bertemu dengan seorang bapak yang hebatnya dia lagi jalan menuju ke atas bukit sambil memikul sepeda onthel dan juga menghisap rokok (Hebatttttttttttttt ttttttttt. ….!!). Jika diperhatikan kalau hujan turun jalan menjadi becek dan menjadi jalur air dari atas bukit ke bawah.

Pukul 13.34 WIB kami akhirnya tiba di mulut terowongan Sumber. Tidak ada bekas bekas rel, bantalan, bekas Stasiun Sumber maupun bekas bangunan semacam PJL (kayak di terowongan-terowongan yang masih aktif, biasanya ada bangunan kecilnya). Sebenarnya dulu di mulut terowongan ada sebuah stasiun, warga sekitar menyebutnya Stasiun Sumber (kayak Stasiun Ijo) dan jalur KA pun terdiri dari 2 jalur. kayaknya di dalam terowongan air menggenang akibat tetasan dari dinding-dinding terowongan, sayang kami tidak menemukan tahun pembuatan terowongan ini karena kata Mas Nurcahyo terdapat di ujung terowongan satunya.

Setelah puas hunting dibekas terowongan Sumber, pukul 13.40 WIB kami tidak balik ke atas bukit tetapi melanjutkan trekking menuju terowongan Bengkok yang panjangnya sekitar 250 m (Belanda kasih nama terowongan Juliana) yang jaraknya ± 300 m dari terowongan Sumber. Terowongan ini dinamai bengkok karena memang terowongan ini tidak lurus tetapi berbelok/ melengkung (bengkok bahasa sunda, bahasa Indonesianya melengkung). Kami menyusuri jalan setapak yang dulunya bekas jalur KA. Butuh 10 menit untuk tiba ke bekas terowongan Bengkok dari bekas terowongan Sumber. Di terowongan Bengkok kami puas-puasin hunting. Tampak di tanah bekas bantalan dan juga kayaknya sering dilewati masyarakat (terlihat bekas sepatu bola).

 

 

Setelah puas hunting dan juga karena gerimis mulai turun, pukul 14.08 WIB kami memutuskan untuk balik ke arah terowongan Sumber dan naik lagi ke atas bukit. Sepanjang jalan balik arah, kami sempat diskusi. Mungkin jalur KA antara terowongan Sumber dan terowongan Bengkok ini dulunya dibangun diatas tanah urugan yang maha tinggi. Hal ini setelah kami melihat sisi kiri dan kanan jalur KA yang cukup curam. sepanjang jalan naik bukit, kami banyak berhenti untuk tarik nafas sekalian foto-foto. Tapi herannya waktu naik ke atas bukit lebih cepat dari pada turunnya (mungkin takut hujan turun).

Pukul 14.29 WIB kami tiba kembali di warung. Seperti prajurit pulang dari medan perang, kami jatuh bergelimpangan, baju kami basah oleh keringat. Akhirnya kamipun pesan es buah yang maknyus rasanya. Kurang dari 5 menit kami tiba di warung, akhirnya hujan turun dengan derasnya. Tetapi hujan tidak lama, 15 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju jembatan terpanjang di Indonesia yakni jembatan Cikacepit. Pukul 15.02 WIB kami berhenti dulu di sebuah warung pas belokan yang ternyata viewnya bisa melihat jembatan Cikacepit dari kejauhan. Dari sini juga kita bisa melihat Muara Segara Anakan tempat bermuaranya Sungai Citanduy, Sungai Cimeneng, Sungai Cibeureum, Sungai Cikonde serta pabrik-pabrik dari jauh.

Pukul 15.21 WIB, setelah melewati terowongan Warungbungur/ Cikacepit yang panjangnya 100 m (Belanda kasih nama terowongan Prins Hendrik), akhirnya kami tiba di jembatan Cikacepit. Sungguh mahakarya yang sangat mengagumkan, jembatan seolah-olah menggantung di awang-awang. Jembatan Cikacepit ini mempunyai panjang ±1.250 m dengan lebar 1.70 m dengan tinggi dari permukaan tanah sekitar 100 m tanpa pelindung dikiri kanan jembatan. Pelindung buat orang yang kebetulan nyebrang justru adanya di bawah, sehingga orang harus meniti tangga dulu. Setelah foto-foto jembatan Cikacepit, kami foto bersama dulu di mulut terowongan Warungbungur sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kalipucang.


 

Pukul 15.52 WIB kami tiba di Kalipucang. Sebelum kami mengunjungi bekas Stasiun Kalipucang, kami menuju ke bekas viaduct. Kami cuma sebentar disini karena hujan turun kembali. Akhirnya sambil menunggu hujan, kami istirahat dan makan di warung makan ayam goreng BU OOM yang sangat terkenal di Kalipucang. Setelah selesai makan ternyata hujanpun reda, maka kami meneruskan trekking tetapi mencari masjid dulu untuk sholat ashar. Selesai sholat, kami menuju bekas Stasiun Kalipucang.


 

Ternyata bekas stasiun ini lebih besar dari pada bekas Stasiun Pangandaran, tetapi sayangnya sebagian bangunan terutama atapnya roboh karena kayu-kayunya telah di makan usia. Dulu sekitar tahun 2000an masih terdapat 1 buah gerbong CR, sekarang hanya menyisakan bekas pintunya saja itupun sudah rusak. Emplasemen dan jalur KA di bekas stasiun ini banyak juga. Ketika kami sedang asik melihat-lihat, datang seorang bapak yang ternyata dulu bekas karyawan PJKA. Nama beliau adalah Dulbasir asli Kebumen, dulu dinas dibagian seksi jalan dan jembatan ruas antara Banjar-Cijulang. Menurut beliau dulu KA-KA yang melintas antara Banjar-Cijulang banyak sekali bisa sampai 5 rangkaian. Dan juga lok DH pernah dipakai dijalur ini malah double traksi. Ketika di tanya lok apa, beliau lupa (menurut kami mungkin D300/BB300, tapi ada yang tahu pastinya???? ?)


 

Pukul 17.11 WIB kami meninggalkan bekas Stasiun Kalipucang dan kami memutuskan untuk langsung menuju bekas Stasiun Banjar. Pukul 17.58 WIB kami tiba di bekas Stasiun Banjar. Hanya saya, Mas Pura dan Mas Intrias yang menuju bekas stasiun ini, yang lainnya langsung menuju Stasiun Banjar. Karena hari sudah sore, hunting kami terbatas. Kami mencari bekas tandon air ternyata sudah di kilo orang. Sedangkan rel, bantalan sudah diangkut oleh pihak Perumka ke Padalarang sekitar tahun 2000an. Dulu sebelum krisis moneter, Mbak Tutut berhasrat membangun kembali jalur KA antara Banjar-Pangandaran- Cijulang. Tetapi pembangunan rel baru sampai Banjar krisis moneter datang dengan dashyatnya, akhirnya pupuslah harapan beliau untuk membuka jalur wisata ke Pangandaran dengan moda KA.

Setelah melaksanakan Sholat magrib dan sholat Isya yang di jamak, kami melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Banjar karena rekan kami yang lain menunggu cukup lama di sana. Tiba di Stasiun Banjar pukul 19.50 WIB, Setelah foto bersama sebentar akhirnya kami pulang menuju Bandung minus Mas Nurcahyo yang akan pulang dulu ke Majenang. Akhirnya kami tiba kembali di Kota Bandung pukul 01.00 WIB dinihari, maka berakhirlah Touring and Trekking IRPS BD ke jalur mati Cijulang- Pangandaran- Banjar- Bandung.


 

NB : Kami dari IRPS BD mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas doa dan supportnya dari rekan-rekan IRPS korwil lainnya, sehingga acara ini berjalan lancar di ridhoi oleh Allah. Selama perjalanan alhamdulilah hujan cuma turun sebentar itupun waktu istirahat, praktis kami tidak mengeluarkan jas hujan. Tetapi dalam acara Touring and Trekking ini memang ada tempat-tempat yang tidak bisa kami kunjungi karena medan yang sangat jauh (semisal Stasiun Labuan). Akhir kata Kami Seluruh anggota IRPS BD mohon maaf jika rekan-rekan yang tadinya mau gabung tetapi ndak jadi akibat perubahan jadwal acara Touring and Trekking ini. 



Wassalam
a/n IRPS BD
Sekretaris Korwil BD

Asep Suherman
NIA : 200700081

Write by Asep Suherman

 Layout by Krisnaharel B.S


 

MEMORY OF CC SERIES

 

Data yang saya miliki tentang loko uap seri CC yaitu lok uap CC10 tahun awal pembuatan 1918 (klo salah mohon di betulkan) dan lok uap CC50 dengan tahun pembuatan 1928. CC10 sampai dengan CC50 dibuat oleh Pabrik Werkspoor bekerjasama dengan pabrik Schweizerische Lokomotiv-und Maschinenfabrik(SLM), lok uap seri CC dioperasikan oleh Java Staats Spoorwegen (JSS), perbedaan lok uap seri CC ini tidak terlalu signifikan antara lain:

DATA TEKNIS

SERI LOK

CC10

CC50

 

 

 

SUSUNAN GANDAR

2-6-6-0T

2-6-6-0

SILINDER

340 x 510 mm dan 520 x 510 mm (bertekanan rendah)

420 x 610 mm dan 650 x 610 mm (bertekanan rendah)

DIAMETER RODA

1106 mm

1106 mm

TEKANAN KETEL

12 kg/cm2

14.0 kg/cm2

TEKANAN TEMPERATUR

135.20 m2

150.8 m2

BERAT LOKO

58.1 ton

73.5 ton

Lok uap seri CC ini sebagian kecil bermarkas di Dipo Lokomotif Cibatu, Jawa Barat (3 lok) yang sering disebut dengan Mecca Of Mallet selain itu persebarannya di Dipo lok Purwokerto (10 Lok), Ambarawa (2 lok), Madiun (2 lok), dan Sidotopo (3 Lok). Seri CC dapat memacu lajunya dengan kecepatan maksimal sampai dengan 55 km/ jam dengan membawa rangkaian dengan berat maksimal 1300 ton dan dapat menikung radius 150 meter, selain itu lok seri CC dapat melahap jalur pegunungan di Tataran Priangan mulai dari Tasikmalaya – Bandung, Bandung – Purwakarta (pulang - pergi), lok uap yang bisa dibilang tiada tandingan dan bandingannya (kecuali kalah dengan lok uap seri DD). Antara tahun 1960 sampai dengan 1970-an masih bisa ditemui di daerah Cibatu, Jawa Barat. Setelah tahun 1970-an Lok Mallet seri CC telah memasuki pensiun dini, lok uap dengan seri CC10xx – CC40xx tidak diketahui keberadaannya, hanya lok uap seri CC 5001 sekarang berada di Museum Transportasi TMII, Jakarta dan lok uap seri CC 5029 sekarang berada di Museum Kereta Api Ambarawa, Jawa tengah. Bagi mereka yang tinggal di Amsterdam Belanda dan sekitarnya dapat menemui lok uap seri CC5022 (SS1622). Harapan saya (meskipun tidak terwujud atau tidak) kita bsa menghidupkan kembali salah satu dari mereka (CC5001/CC5029) untuk dijadikan  aset bagi dunia perkereta apian, langkah dari Geoff Warren dan teman-teman Balai Yasa kereta api di Afrika Selatan yang menghidupkan kembali lok uap seri D.

MEMORY STEAM LOCO OF CC SERIES

 

 

Konservasi Bangunan Kolonial di Jakarta part-1

Jakarta telah sudah berumur 1529 (klo salah mohon di betulkan) tua banget toh? tapi ada yang kota yang lebih tua di jawa, yaitu Surabaya. Dalam perkembangannya Tempo Doeloe, Batavia (sebutan Jakarta) sudah menjadi ibukota terbesar dan paling maju dalam segala bidang, mulai perkembangan perekonomian, perdagangan sampai dengan perkembangan arsitektur dan perencanaan kotanya. Sejenak kita menengok aktivitas yang di lakukan oleh para Meneer, Madaam n Inlandrens di kota Batavia. Pusat kotanya sendiri berada di Kota Lama Batavia yang sering kita lalui dan kita lihat. Yang petama ialah Gedung Balaikota or Landhius, di depannya terdapat dua bangunan, Yaitu Teleegraf Kantoor (Kantor Pos) n Cafe Batavia. Di sebelah kanan terdapat Gedung Pengadilan (Raad Van Justice) dan sebelah kirinya terdapat kantor-kantor yang digunakan oleh Pemerintah Belanda.

Di kawasan Kali Besar masih banyak kita temui bangunan-bangunan kolonial Belanda, yaitu Rumah Merah, eks.bangunan Shanghai and Co Bank, serta sederetan bangunan kuno lainnya. Kawasan tersebut dibelah oleh sungai yang namanya Kali Besar. Kalo kita mengikuti Kali Besar menuju ke utara akan kita temui jembatan tua banget yang berfungsi sebagai masuknya kapal-kapal dagang menuju kawasan Kali Besar untuk bertransaksi jual-beli antar pedagang.

Stasiun Jakarta kota or Beos baru di bangun tahun 1914, gedung Nederlandesche Handel Maatshappij serta gedung Javasche Bank menambah ciri khas tersendiri bagi kota Batavia untuk di sandingkan dengan kota-kota di Eropa (khususnya Belanda). Pembangunan Gedung, Bangunan, serta rumah oleh para arsitek terkenal seperti Ed Cuypers & M.J hulswit Batavia, biro arsitek dari AIA yang di pimpin oleh F.J.L Ghysels, menambah maraknya wajah perkotaan di Batavia. emoticon

Bangunan Kolonial-1 

 

 

My Lovely Wife

ola, foto ini lagi di TMII pas lagi liburan kemaren.. aku n istriku (Eti Setiawati) jalan-jalan dari bandoeng ke djakarta. kita keliling di TMII mulai dari anjungan rumah tradisional s/d anjungan yang aku suka ialah kereta. oks? emoticon

My Lovely Wife1

Perencanaan Desa (Village Planning)

Village Planning (VP) atau biasa yang disebut perencanaan desa mungkin hal baru yang saya paparkan, akan tetapi istilah VP ini banyak digunakan apabila merencanakan sebuah desa di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sebagian besar masyarakat Aceh serta para konsultan perencana pasti sudah mengetahui istilah ini. Latar belakang di bentuknya VP di karenakan pada tanggal 26 Desember 2004 terjadi musibah internasional yaitu tsunami, gempa yang berkekuatan 9 SR serta di ikuti dengan gelombang tsunami tlah menghancurkan dari segi manapun juga termasuk pemukiman, tempat-tempat penting dan lumpuhnya sistem ekonomi pada masyarkat Aceh.
Untuk merehabilitasi dan merekonstruksi kawasan bencana di NAD diperlukan perjuangan yang sangat keras, di karenakan kapling, rumah, serta fasilitas umum dan social di desa sudah hancur, serta masih traumanya masyarakat Aceh dalam hal tsunami. Untuk itu perencanaan sebuah kawasan dalam skala kota sangatlah besar dan membutuhkan banyak data dan opini. Dalam merencanakan pembangunan desa, para arsitek, planer, ahli sipil dan ahli teknik lingkungan membutuhkan banyak informasi dan merencanakan desa bagi masyarakat sendiri. Alasan perencanaan desa berbasis masyarakat ialah agar masyarakat memberi data-data, mengetahui, merencanakan sampai dengan mengimplementasikan desa tersebut tertata dengan baik dan memasukkan unsur-unsur bagaimana merancang sistem mitigasi sehingga dalam kemudian waktu jika tsunami datang lagi masyarakat bisa menyelamatkan diri dan merasa aman.
Proses perencanaan VP dilakukan dalam tiga fase, antara lain: 1. Sosialisasi pada masyarakat, 2. Survey lapangan, 3. Skenario perencanaan desa yang langsung di tujukan kepada masyarakat dan ditandatangai masyarakat sendiri bahwasannya desa tersebut di rencanakan oleh masyarakat sendiri . Para arsitek serta planer hanya memberikan pengarahan kepada masyarakat bagaimana merencanakan sebuah desa yang memasukkan unsur mitigasi.

 

 peta skenario

 

Memory Aceh

    ola smua, gw lulusan arsitek dari Universitas Komputer Indonesia di Bandung, sebelum lulus kuliah n masih TA hal yang aku dambakan ialah jadi seorang arsitek, soalnya kerjaan arsitek punya tantangan tersendiri, mulai dari merancang sampai dengan membangun bangunan. Setelah sidang yudisium di umumkan n ternyata alhamdulilah lulus aku dapat tawaran kerja di Aceh dari temenku sekampus dlu (Namannya Eko) langsung aja aku menyetujui tawaran itu. Pertaman kali datang ke Aceh pikiranku sempat was-was (maklum Aceh masih status DOM) tapi bukan itu tujuanku datang kesini (Aceh), misiku hanya membantu para warga, masyarakat untuk merancang dalam skup desa setelah ada musibah tsunami pada tanggal 26 desember 2004. Banyak memory di Aceh, meskipun pada awalnya was-was tapi kalo kita tahu tentang budaya orang Aceh n kita bisa menghormati kebudayaan serta sifat orang Aceh, kita bisa enjoy dan tidak ingin lepas kultur mereka. Sudah satu setengah tahun aku di Aceh, sekarang aku bekerja di Jakarta tetapi masih berhubungan dengan tsunami. Moga memory Aceh bisa di wujudkan kembali, amin… salam buat smua teman, sahabat yang berada di Aceh n Nias, selamat berjuang…ok?

 

 Temen Aceh-1