TOUR n TREKKING IN PANGANDARAN part-2

Pukul 11.45 WIB kami akhirnya cek-out dan melanjutkan trekking ke arah Banjar. Pukul 12.22 WIB, kami tiba di bekas jembatan Ciputrapinggan kecil yang melintasi sebuah sungai. Bekas jembatan ini hanya menyisakan kerangkanya saja, baik bantalan dan rel raib entah kemana. 15 menit kemudian kami tiba di dekat jembatan Ciputrapinggan besar (dekat bibir pantai). Dengan menaiki sebuah bukit, akhirnya kami bisa melihat keadaan bekas jembatan Ciputrapinggan ini. Kami tidak bisa mengikuti bekas jalur KA yang menuju jembatan ini karena sekarang sudah menjadi sebuah sungai kecil dan juga kolam-kolam ikan penduduk sekitar.


 

Pukul 13.00 WIB kami tiba disebuah warung di dekat bekas terowongan terpanjang di Indonesia (1.216 m). Warga sekitar menyebutnya Terowongan Sumber, kalau Belanda kasih nama terowongan ini ialah terowongan Ratu Wilhelmina. Setelah menitipkan motor ke ibu pemilik warung, kami mulai menuruni bukit menuju ke bekas terowongan Sumber minus istri Mas Krisnaharel. Butuh 30 menit untuk sampai ke mulut terowongan ini, karena medan yang harus di tempuh relatif extreme. Kami harus menurunin bukit yang berkelok-kelok dengan kemiringan ± 30°. Ketika kami menurunin bukit, kami bertemu dengan seorang bapak yang hebatnya dia lagi jalan menuju ke atas bukit sambil memikul sepeda onthel dan juga menghisap rokok (Hebatttttttttttttt ttttttttt. ….!!). Jika diperhatikan kalau hujan turun jalan menjadi becek dan menjadi jalur air dari atas bukit ke bawah.

Pukul 13.34 WIB kami akhirnya tiba di mulut terowongan Sumber. Tidak ada bekas bekas rel, bantalan, bekas Stasiun Sumber maupun bekas bangunan semacam PJL (kayak di terowongan-terowongan yang masih aktif, biasanya ada bangunan kecilnya). Sebenarnya dulu di mulut terowongan ada sebuah stasiun, warga sekitar menyebutnya Stasiun Sumber (kayak Stasiun Ijo) dan jalur KA pun terdiri dari 2 jalur. kayaknya di dalam terowongan air menggenang akibat tetasan dari dinding-dinding terowongan, sayang kami tidak menemukan tahun pembuatan terowongan ini karena kata Mas Nurcahyo terdapat di ujung terowongan satunya.

Setelah puas hunting dibekas terowongan Sumber, pukul 13.40 WIB kami tidak balik ke atas bukit tetapi melanjutkan trekking menuju terowongan Bengkok yang panjangnya sekitar 250 m (Belanda kasih nama terowongan Juliana) yang jaraknya ± 300 m dari terowongan Sumber. Terowongan ini dinamai bengkok karena memang terowongan ini tidak lurus tetapi berbelok/ melengkung (bengkok bahasa sunda, bahasa Indonesianya melengkung). Kami menyusuri jalan setapak yang dulunya bekas jalur KA. Butuh 10 menit untuk tiba ke bekas terowongan Bengkok dari bekas terowongan Sumber. Di terowongan Bengkok kami puas-puasin hunting. Tampak di tanah bekas bantalan dan juga kayaknya sering dilewati masyarakat (terlihat bekas sepatu bola).

 

 

Setelah puas hunting dan juga karena gerimis mulai turun, pukul 14.08 WIB kami memutuskan untuk balik ke arah terowongan Sumber dan naik lagi ke atas bukit. Sepanjang jalan balik arah, kami sempat diskusi. Mungkin jalur KA antara terowongan Sumber dan terowongan Bengkok ini dulunya dibangun diatas tanah urugan yang maha tinggi. Hal ini setelah kami melihat sisi kiri dan kanan jalur KA yang cukup curam. sepanjang jalan naik bukit, kami banyak berhenti untuk tarik nafas sekalian foto-foto. Tapi herannya waktu naik ke atas bukit lebih cepat dari pada turunnya (mungkin takut hujan turun).

Pukul 14.29 WIB kami tiba kembali di warung. Seperti prajurit pulang dari medan perang, kami jatuh bergelimpangan, baju kami basah oleh keringat. Akhirnya kamipun pesan es buah yang maknyus rasanya. Kurang dari 5 menit kami tiba di warung, akhirnya hujan turun dengan derasnya. Tetapi hujan tidak lama, 15 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju jembatan terpanjang di Indonesia yakni jembatan Cikacepit. Pukul 15.02 WIB kami berhenti dulu di sebuah warung pas belokan yang ternyata viewnya bisa melihat jembatan Cikacepit dari kejauhan. Dari sini juga kita bisa melihat Muara Segara Anakan tempat bermuaranya Sungai Citanduy, Sungai Cimeneng, Sungai Cibeureum, Sungai Cikonde serta pabrik-pabrik dari jauh.

Pukul 15.21 WIB, setelah melewati terowongan Warungbungur/ Cikacepit yang panjangnya 100 m (Belanda kasih nama terowongan Prins Hendrik), akhirnya kami tiba di jembatan Cikacepit. Sungguh mahakarya yang sangat mengagumkan, jembatan seolah-olah menggantung di awang-awang. Jembatan Cikacepit ini mempunyai panjang ±1.250 m dengan lebar 1.70 m dengan tinggi dari permukaan tanah sekitar 100 m tanpa pelindung dikiri kanan jembatan. Pelindung buat orang yang kebetulan nyebrang justru adanya di bawah, sehingga orang harus meniti tangga dulu. Setelah foto-foto jembatan Cikacepit, kami foto bersama dulu di mulut terowongan Warungbungur sebelum melanjutkan perjalanan menuju Kalipucang.


 

Pukul 15.52 WIB kami tiba di Kalipucang. Sebelum kami mengunjungi bekas Stasiun Kalipucang, kami menuju ke bekas viaduct. Kami cuma sebentar disini karena hujan turun kembali. Akhirnya sambil menunggu hujan, kami istirahat dan makan di warung makan ayam goreng BU OOM yang sangat terkenal di Kalipucang. Setelah selesai makan ternyata hujanpun reda, maka kami meneruskan trekking tetapi mencari masjid dulu untuk sholat ashar. Selesai sholat, kami menuju bekas Stasiun Kalipucang.


 

Ternyata bekas stasiun ini lebih besar dari pada bekas Stasiun Pangandaran, tetapi sayangnya sebagian bangunan terutama atapnya roboh karena kayu-kayunya telah di makan usia. Dulu sekitar tahun 2000an masih terdapat 1 buah gerbong CR, sekarang hanya menyisakan bekas pintunya saja itupun sudah rusak. Emplasemen dan jalur KA di bekas stasiun ini banyak juga. Ketika kami sedang asik melihat-lihat, datang seorang bapak yang ternyata dulu bekas karyawan PJKA. Nama beliau adalah Dulbasir asli Kebumen, dulu dinas dibagian seksi jalan dan jembatan ruas antara Banjar-Cijulang. Menurut beliau dulu KA-KA yang melintas antara Banjar-Cijulang banyak sekali bisa sampai 5 rangkaian. Dan juga lok DH pernah dipakai dijalur ini malah double traksi. Ketika di tanya lok apa, beliau lupa (menurut kami mungkin D300/BB300, tapi ada yang tahu pastinya???? ?)


 

Pukul 17.11 WIB kami meninggalkan bekas Stasiun Kalipucang dan kami memutuskan untuk langsung menuju bekas Stasiun Banjar. Pukul 17.58 WIB kami tiba di bekas Stasiun Banjar. Hanya saya, Mas Pura dan Mas Intrias yang menuju bekas stasiun ini, yang lainnya langsung menuju Stasiun Banjar. Karena hari sudah sore, hunting kami terbatas. Kami mencari bekas tandon air ternyata sudah di kilo orang. Sedangkan rel, bantalan sudah diangkut oleh pihak Perumka ke Padalarang sekitar tahun 2000an. Dulu sebelum krisis moneter, Mbak Tutut berhasrat membangun kembali jalur KA antara Banjar-Pangandaran- Cijulang. Tetapi pembangunan rel baru sampai Banjar krisis moneter datang dengan dashyatnya, akhirnya pupuslah harapan beliau untuk membuka jalur wisata ke Pangandaran dengan moda KA.

Setelah melaksanakan Sholat magrib dan sholat Isya yang di jamak, kami melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Banjar karena rekan kami yang lain menunggu cukup lama di sana. Tiba di Stasiun Banjar pukul 19.50 WIB, Setelah foto bersama sebentar akhirnya kami pulang menuju Bandung minus Mas Nurcahyo yang akan pulang dulu ke Majenang. Akhirnya kami tiba kembali di Kota Bandung pukul 01.00 WIB dinihari, maka berakhirlah Touring and Trekking IRPS BD ke jalur mati Cijulang- Pangandaran- Banjar- Bandung.


 

NB : Kami dari IRPS BD mengucapkan beribu-ribu terima kasih atas doa dan supportnya dari rekan-rekan IRPS korwil lainnya, sehingga acara ini berjalan lancar di ridhoi oleh Allah. Selama perjalanan alhamdulilah hujan cuma turun sebentar itupun waktu istirahat, praktis kami tidak mengeluarkan jas hujan. Tetapi dalam acara Touring and Trekking ini memang ada tempat-tempat yang tidak bisa kami kunjungi karena medan yang sangat jauh (semisal Stasiun Labuan). Akhir kata Kami Seluruh anggota IRPS BD mohon maaf jika rekan-rekan yang tadinya mau gabung tetapi ndak jadi akibat perubahan jadwal acara Touring and Trekking ini. 



Wassalam
a/n IRPS BD
Sekretaris Korwil BD

Asep Suherman
NIA : 200700081

Write by Asep Suherman

 Layout by Krisnaharel B.S


 

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://krisnah.blogsome.com/2008/01/16/tour-n-trekking-in-pangandaran-part-2/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.